BAB I

PENDAHULUAN

I.1. Latar belakang

Tumbuh-tumbuhan mempunyai kedudukan dan peranan yang amat penting dalam kehidupan manusia. Hampir lima dekade terakhir ini timbul ketertarikan yang kuat dalam meneliti tumbuhan sebagai sumber obat-obatan. Ini didasarkan pada beberapa alasan. Pertama, adanya gerakan revolusi hijau yang didasari keyakinan bahwa pengobatan dengan tumbuhan lebih aman dan dapat mengurangi efek samping pada tubuh manusia dibandingkan dengan obat-obatan sintetis. Kedua, adanya fakta bahwa banyak obat-obatan penting yang digunakan sekarang berasal dari tumbuhan Diperkirakan sekitar 30.000 spesies tumbuhan ditemukan di dalam hutan hujan tropika, sekitar 1.260 spesies diantaranya berkhasiat sebagai obat.

Pada saat ini, baru sekitar 180 spesies yang telah digunakan untuk berbagai keperluan industri obat dan jamu, tetapi baru beberapa spesies yang telah dibudidayakan secara intensif. Diperkirakan masih banyak tumbuhan berkhasiat obat yang belum diketahui kandungan senyawa aktifnya, sehingga diperlukan penelitian khusus. Agar pengobatan secara tradisional dapat dipertanggungjawabkan maka diperlukan penelitian ilmiah seperti penelitian di bidang farmakologi, toksikologi, identifikasi dan isolasi zat kimia aktif yang terdapat dalam tumbuhan.

Tumbuhan dapat digunakan sebagai obatobatankarena tumbuhan tersebut menghasilkan suatu senyawa yang memperlihatkan aktifitas biologis tertentu. Senyawa aktif biologis itu merupakan senyawa metabolit sekunder yang meliputi alkaloid, flavonoid, terpenoid dan steroid.

I.2. Maksud dan tujuan

     1.2.1     Maksud

Maksud dari praktikum ini adalah untuk mengetahui dan memahami cari skrining fitokimia.

  1. Tujuan

    Untuk mengetahui kandungan senyawa aktif dari daun kayu johar (Cassia folium).

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Simplisia adalah bahan alamiah yang digunakan sebagai obat yang belum mengalami pengolahan apapun juga dan lecuali dinyatakan lain berupa bahan yang telah dikeringkan.Simplisia nabati adalah simplisia berupa tumbuhan utuh, bagian tumbuhan atau isi sel yang dengan cara tertentu dikeluarkan dari selnya atau senyawa nabati lainnya yang dengan cara tertentu dipisahkan dari tumbuhannya dan belum berupa senyawa kimia murni.

Johar atau juar adalah nama sejenis pohon penghasil kayu keras yang termasuk suku Fabaceae (Leguminosae = polong-polongan). Pohon yang sering ditanam sebagai peneduh tepi jalan ini, dikenal pula dengan nama-nama yang mirip, seperti juwar atau johor (Steenis 1981).

Di Sumatra, pohon ini dinamai pula bujuk atau dulang. Dalam bahasa Inggris tumbuhan ini disebut dengan beberapa nama seperti black-wood cassia, Bombay blackwood, kassodtree, Siamese senna dan lain-lain (Kardono. 2003).

  1. Klasifikasi

    Menurut Heyne (1987), johar diklasifikasikan sebagai berikut :

    Kingdom : Plantae (Tumbuhan)

    Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)

    Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)

    Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)

    Kelas : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)

    Sub Kelas : Rosidae

    Ordo : Fabales

    Famili : Fabaceae (suku polong-polongan)

    Genus : Cassia

    Spesies : Cassia siamea

  2. Morfologi

    Cassia siamea merupakan pohon berukuran sedang dengan cabang yang kuat dan halus. Daunnya terdiri dari 7-10 pasang anak daun, petiole (tangkai daun) mempunyai panjang 2-3 cm, dan tulang daunnya sepanjang 10-25 cm.Kelopaknya berwarna kuning dan panjangnya 1,5-2 cm . Buahnya seperti kacang polong sebanyak 20-30 buah dengan ukuran 1-1,5 cm (Farnsworth dan Bunyapraphatsara 1992). Bunga Johar memiliki panjang 15-60 cm dengan 10-60 kuntum bunga. Setiap bunga memiliki benang sari 10. Biji berwarna coklat terang mengkilap, bundar telur pipih dengan ukuran 6,5-8 mm x 6 mm (Steenis 1981).

  3. Kandungan Kimia

    Beberapa komponen kimia yang terdapat pada tanaman yang berkhasiat sebagai obat diantaranya:

    1. Alkaloid

    Alkaloid yaitu senyawa kimia yang biasa ditemukan pada tumbuhan dan digunakan sebagai bahan dasar untuk pembuatan obat, misalnya morphin, atropin, dan codein. Alkaloid dapat menembus barier darah otak (blood-brain barrier), apabila kandungan alkaloid berlebihan dalam tubuh maka alkaloid dapat menyebabkan kerusakan hati.

    2. Flavonoid

    Flavonoid merupakan senyawa polar sehingga flavonoid dapat larut dalam pelarut polar seperti etanol, metanol, aseton, dimetil sulfoksida (DMSO), dimetil fonfamida (DMF), dan air. Flavonoid merupakan senyawa kimia yang bekerja sebagai antioksidan, memiliki hubungan sinergis dengan vitamin C (meningkatkan efektivitas vitamin C), antiinflamasi,menghambat pertumbuhan tumor, dan mencegah keropos tulang (Harbone, 1987).

    3. Tanin

    Tanin merupakan senyawa fenolik yang kerjanya bersifat adstringen (menciutkan selaput usus/ pengelat) yang dapat mengurangi kontraksi usus, menghambat diare, mengurangi penyerapan, dan melindungi usus dengan cara melapisi permukaan lumen (Harbone, 1987).

    4. Saponin

    Saponin adalah suatu glikosida triterpana dan sterol yang mungkin terdapat pada banyak tanaman. Kata saponin berasal dari bahasa Latin “sapo” yaitu suatu bahan yang akan membentuk busa jika dilarutkan dalam larutan yang encer. Saponin berfungsi sebagai ekspektoran, kemudian emetikum jika dikonsumsi dalam jumlah yang besar. Saponin juga merupakan senyawa kimia yang dapat menyebabkan sel darah merah terganggu akibat dari kerusakan membran sel, menurunkan kolestrol plasma, dan dapat menjaga keseimbangan flora usus, serta sebagai antibakteri (Harbone, 1987).

    5. Kuinon

    Kuinon merupakan senyawa berwarna dan memiliki kromofor dasar seperti kromofor pada benzikuinon, naftokuinon, antrakuinon, dan kuionon isoprenoid, serta bersifat menghilangkan rasa sakit.Daun johar mengandung alkaloid, steroid, triterpenoid, saponin, flavonoid,dan tanin. Bagian tanaman yang diduga sebagai bahan untuk mengatasi koksidiosis adalah daunnya yang mengandung betulin, betulin merupakan komponen kimia dari golongan triterpenoid, yang masuk dalam turunan saponin.

    Variasi kandungan kimia tumbuhan obat (in vivo) disebabkan oleh :

  • Genetik (bibit)
  • Lingkungan (tempat tumbuh, iklim)
  • Rekayasa agronomi
  • Panen (waktu dan pasca panen)

Tahapan pembuatan simplisia yang baik

  1. Pengumpulan bahan (panen)
  2. Sortasi basah
  3. Pencucian
  4. Sortasi kering
  5. Perajangan
  6. Pengeringan
  7. Penyimpanan
  1. Uji Metabolit Sekunder
    1. Identifikasi alkaloid dengan metode Culvenor-Fitzgerald (Harborne, 1987)

      Sampel dicampur dengan 5 ml kloroform dan 5 ml amoniak kemudian dipanaskan, dikocok dan disaring. Ditambahkan 5 tetes asam sulfat 2 N pada masing-masing filtrat,    kemudian kocok dan didiamkan. Bagian atas dari masing-masing filtrat diambil dan diuji dengan pereaksi Meyer, Wagner, dan Dragendorf. Terbentuknya endapan jingga, cokelat, dan putih menunjukkan adanya alkaloid.

    2. Identifikasi Flavonoid (Harborne, 1987)

      Sampel dicampur dengan 5 ml etanol, dikocok, dipanaskan, dan dikocok lagi kemudian disaring. Kemudian ditambahkan Mg 0,2 g dan 3 tetes HCl pada masing-masing filtrat. Terbentuknya warna merah pada lapisan etanol menunjukkan adanya flavonoid.

    3. Identifikasi Saponin (Harborne, 1987)

      Sampel dididihkan dengan 20 ml air dalam penangas air. Filtrat dikocok dan didiamkan selama 15 menit. Terbentuknya busa yang stabil berarti positif terdapat saponin.

    4. Identifikasi Steroid (Harborne, 1987)

      Sampel diekstrak dengan etanol dan ditambah 2 ml asam sulfat pekat dan 2 ml asam asetat anhidrat. Perubahan warna dari ungu ke biru atau hijau menunjukkan adanya steroid.

    5. Identifikasi Tanin (Edeoga, 2005)

      Sampel didihkan dengan 20 ml air lalu disaring. Ditambahkan beberapa tetes feriklorida 1% dan terbentuknya warna coklat kehijauan atau biru kehitaman menunjukkan adanya tanin.

BAB III

PROSEDUR KERJA

III.1. Alat

Alat yang digunakan yaitu Tabung reaksi, mixer, rak tabung, sikat tabung, tissu, alumunim foil,dan cawan porselin

III.2. Bahan

Bahan yang digunakan yaitu FeCl3 0,1 N, KOH 10%, etanol, HCl 0,5 N, eter, Bauchardat, Mayer, Wagner dan Dragendroff.

III.3.
Cara Kerja

  1. Identifikasi alkaloid

    Ekstrak metanol dimasukan ke dalam masing-masing tabung reaksi kemudian ditetesi:

  • pereaksi Mayer membentuk endapan kuning.
  • pereaksi Dragendorff membentuk endapan kuning jingga.
  • Pereaksi Bauchardat membentuk endapan coklat
  1. Identifikasi tanin
    1. Katekol

      Sampel ditambahakan FeCl3, menghasilkan wana hijau

    2. Pirogalotanin

      Sampel ditambahakan FeCl3, menghasilkan wana biru

  2. ldentifikasi flavonoid

    Sampel ditambahkan dengan FeCl3 dan HCl menghasilkan warna merah.

  3. Identifikasi saponin

    500mg serbuk simplisia ditambah 10 mL aquadest panas kemudian didinginkan dan dikocok kuat selama 10 detik. Terbentuk busa setinggi 1-10 cm yang stabil selama 10 menit. Pada penambahan 1 tetes asa^i klorida 2N, busa tidak hilang.

  4. Identivikasi gol.Dioksiantrakinon

    Sedikit serbuk dimasukan ke dalam tabung reaksi,lalu di tetesi dengan KOH 10 % P b/v dalam etanol 95% P,jika mengandung dioksiantrakinon akan mnghasilkan warna merah.

 

BAB IV

HASIL

Gol.komponen kimia

Pereaksi

Sampel

Tanin (Katekol)

S + Fecl3

Hijau (+)

Dioksiantrakinon

S + KOH + Etanol

Coklat tua (-)

Alkaloid

S + HCl + Mayer

Kuning (+)

Alkaloid

S + HCl + Dragendrof

Jingga (+)

Saponin

S + Air Panas (Dikocok)+ HCl

Buih (+)

Flavanoid

S + Fecl3 + HCl

Kuning (-)

Tanin (pirogalotanin)

S + Fecl3

Hijau (-)

Steroid

S + etanol + eter

Kuning (-)

 

 

BAB V

PEMBAHASAN

Skirining fitokimia adalah tahap adalam mengindetifikasi kandungan kimia dari suatu sampel, dimana dalam skrining tersebut dilakukan indentifikasi kandungan kimia dari sampel daun kayu johar (Cassia folium) yang diperkirakan berkhasiat sebagai obat gatal, malaria, kudis, kencing manis, demam dan luka.

Alkaloid yaitu senyawa kimia yang biasa ditemukan pada tumbuhan dan digunakan sebagai bahan dasar untuk pembuatan obat, misalnya morphin, atropin, dan codein. Alkaloid dapat menembus barier darah otak (blood-brain barrier), apabila kandungan alkaloid berlebihan dalam tubuh maka alkaloid dapat menyebabkan kerusakan hati.

Flavonoid merupakan senyawa polar sehingga flavonoid dapat larut dalam pelarut polar seperti etanol, metanol, aseton, dimetil sulfoksida (DMSO), dimetil fonfamida (DMF), dan air.

Tanin merupakan senyawa fenolik yang kerjanya bersifat adstringen (menciutkan selaput usus/ pengelat) yang dapat mengurangi kontraksi usus, menghambat diare, mengurangi penyerapan, dan melindungi usus dengan cara melapisi permukaan lumen.

Saponin adalah suatu glikosida triterpana dan sterol yang mungkin terdapat pada banyak tanaman. Kata saponin berasal dari bahasa Latin “sapo” yaitu suatu bahan yang akan membentuk busa jika dilarutkan dalam larutan yang encer. Saponin berfungsi sebagai ekspektoran, kemudian emetikum jika dikonsumsi dalam jumlah yang besar. Saponin juga merupakan senyawa kimia yang dapat menyebabkan sel darah merah terganggu akibat dari kerusakan membran sel, menurunkan kolestrol plasma, dan dapat menjaga keseimbangan flora usus, serta sebagai antibakteri

    Dalam skirining sampel daun kayu johar (Cassia folium) kali ini ditemukan bahwa sampel tersebut mengandung tanin (katekol), alkaloid, dan saponin. Dimana hasil dari skrining tersebut akan dijadikan dasar untuk pengujian berikutnya.

BAB VI

KESIMPULAN

VI.1 KESIMPULAN

Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan dan dilanjutkan dengan pengujian kandungan kimia dari tumbuhan yang diperoleh, dapat disimpulkan bahwa Daun kayu johar (Cassia folium) mengandung tanin (katekol), alkaloid, dan saponin.

VI.2 SARAN

Sebaiknya praktikan bekerja dengan mengefisienkan waktu.

 

DAFTAR PUSTAKA

Edeoga, H.O., D.E. Okwu & B.O. Mbaebie. 2005. Phytochemical Constituents of Some Nigerian Medicinal Plants. African Journal of Biotechnology. 4 (7), pp 685-688. http://www.academicjournals.org /AJB

 

Harborne, J. B. 1987. Metode Fitokimia.
Penuntun    Cara Modern
Menganalisis Tumbuhan. Terjemahan K. Padmawinata & I. Soediro, Penerbit ITB, Bandung.

 

Heyne, K., (1987), Tumbuhan Berguna Indonesia, Jilid 3, Departemen Kehutanan, Jakarta.

 

Kardono, L.B.S., Angehofer C.K., Tsauri S., Padmawinata K., Pezzuto J.M. & Kinghorn D.
1991. Cytotoxic and antimalarial constituents of the roots of Eurycoma longifolia. Journ. Nat. Prod.

 

Steenis Van, C.G.G.J. 1978. Flora. P.T. Pradnya. Paramita Jakarta.