BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki luasan lautan terbesar di dunia. Indonesia memiliki jumlah pulau ±17.807 yang dimana memiliki panjang garis pantai mencapai ratusan kilometer. Hal ini yang menyebabkan Indonesia memiliki sumberdaya alam yang melimpah. Kekayaan laut yang sangat beragam pun dapat kita jumpai di Indonesia.

Kromatografi lapis tipis (KLT) dikembangkan oleh Izmailoff dan Schraiber pada tahun 1938. KLT merupakan bentuk kromatografi planar, selain kromatografi kertas dan elektroforesis. Berbeda debgan kromatografi kolom yang mana fase diamnya diisikan atau dikemas di dalamnya, pada kromatografi lapis tipis, fase diamnya berupa lapisan yang seragam (uniform) pada permukaan bidang datar yang didukung oleh lempeng kaca, pelat aluminium atau pelat plastik. Meskipun demikian, kromatografi planar ini dapat dikatakan sebagai bentuk terbuka dari kromatografi kolom.

Untuk itu kami melakukan sebuah kegiatan praktikum untuk mengelola dan memanfaatkan sebuah sumberdaya alam yang ada sehingga dapat digunakan dalam waktu jangka panjang. Praktikum yang dilakukan ialah melakukan kromatografi lapis tipis dari fraksi ekstrak tanaman johar (Cassia siamea) Untuk melihat noda .

 

  1. Rumusan Masalah

Berapa nilai Rf Fraksi Air, N-Butanol, dan N-Heksan ekstrak tanaman daun johar (Cassia folium) yang berasal dari Desa belabori, Kecamatan Parangloe, Kabupaten Gowa.

  1. Maksud dan Tujuan
  2. Maksud

    Adapun maksud dari percobaan ini adalah untuk menentukan nilai Rf Fraksi Air, N-Butanol, dan N-Heksan ekstrak tanaman daun johar (Cassia folium) yang berasal dari Desa belabori, Kecamatan Parangloe, Kabupaten Gowa.

  3. Tujuan

    Tujuan dari praktikum kali ini adalah untuk memperoleh nilai Rf Fraksi Air, N-Butanol, dan N-Heksan ekstrak tanaman daun johar (Cassia folium) yang berasal dari Desa belabori, Kecamatan Parangloe, Kabupaten Gowa.

  4. Kerangka Pikir


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

  1. Uraian Tanaman
  2. Klasifikasi Tanaman (Heyne, 1987)

    Kingdom    : Plantae (Tumbuhan)

    Subkingdom     : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)

    Super Divisi     : Spermatophyta (Menghasilkan biji)

    Divisi    : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)

    Kelas    : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)

    Sub Kelas    : Rosidae

    Ordo    : Fabales

    Famili    : Fabaceae (suku polong-polongan)

    Genus    : Cassia

    Spesies    : Cassia siamea

  3. Nama Daerah

    Kayu Jawa (Gowa)

    Johar (flores)

  4. Morfologi

    Cassia siamea merupakan pohon berukuran sedang dengan cabang yang kuat dan halus. Daunnya terdiri dari 7-10 pasang anak daun, petiole (tangkai daun) mempunyai panjang 2-3 cm, dan tulang daunnya sepanjang 10-25 cm.Kelopaknya berwarna kuning dan panjangnya 1,5-2 cm . Buahnya seperti kacang polong sebanyak 20-30 buah dengan ukuran 1-1,5 cm. Bunga Johar memiliki panjang 15-60 cm dengan 10-60 kuntum bunga. Setiap bunga memiliki benang sari 10. Biji berwarna coklat terang mengkilap, bundar telur pipih dengan ukuran 6,5-8 mm x 6 mm. (Steenis, 1981)

  5. Ekologi

    Johar dapat tumbuh baik pada pelbagai kondisi tempat; akan tetapi paling cocok pada dataran rendah tropika dengan iklim muson, dengan curah hujan antara 500 – 2800 mm (optimum sekitar 1000 mm) pertahun, dan temperatur yang berkisar antara 20 – 31 °C. Johar menyukai tanah-tanah yang dalam, sarang, dan subur, dengan pH antara 5,5 – 7,5. Tanaman ini tidak tahan dingin dan pembekuan, tidak bagus tumbuhnya di atas elevasi 1300 m dpl. (Heyne, 1987)

  6. Kandungan Kimia

    Daun Johar menunjukkan adanya senyawa alkaloid, flavonoid, tanin, kuinon, dan steroid/triterpenoid. (Amri, 1995)

  7. Aktivitas Biologi / Khasiat

    Daun Johar (Cassia siamea) banyak digunakan dalam pengobatan tradisional antara lain sebagai obat malaria, gatal, kudis, kencing manis, demam, luka dan dimanfaatkan sebagai tonik karena memiliki kandungan flavonoid dan karotenoid yang cukup tinggi (Heyne 1987).

 

  1. Kromatografi Lapis Tipis
  2. Definisi (Roy, 1991)

    Kromatografi Lapis Tipis (KLT) merupakan cara pemisahan campuran senyawa menjadi senyawa murninya dan mengetahui kuantitasnya yang menggunakan. Kromatografi juga merupakan analisis cepat yang memerlukan bahan sangat sedikit, baik penyerap maupun cuplikannya.

  3. Fase KLT
    1. Fase Diam (Gandjar, 2007)

      Fase diam yang digunakan dalam KLT merupakan penjerap berukuran kecil dengan diameter partikel antara 10-30 µm. Semakin kecil ukuran rata-rata partikel fase diam dan semakin sempit kisaran ukuran fase diam, maka semakin baik kinerja KLT dalam hal efisiensi dan resolusinya.

      Penjerap yang paling sering digunakan adalah silica dan serbuk selulosa, sementara mekanisme sorpsi yang utama pada KLT adalah adsorpsi dan partisi.

      1. Fase Gerak (Gandjar, 2007)

        Fase gerak pada KLT dapat dipilih dari pustaka, tetapi lebih sering dengan mencoba-coba karena waktu yang diperlukan hanya sebentar. Sistem yang paling sederhana ialah campuran 2 pelarut organik karena daya elusi campuran kedua pelarut ini dapat mudah diatur sedemikian rupa sehingga pemisahan dapat terjadi secara optimal. Berikut adalah beberapa petunjuk dalam memilih dan mengoptimasi fase gerak :

        1. Fase gerak harus mempunyai kemurnian yang sangat tinggi karena KLT merupakan teknik yang sensitif
        2. Daya elusi fase gerak harus diatur sedemikian rupa sehingga harga Rf terletak antara 0,2-0,8 untuk memaksimalkan pemisahan
        3. Untuk pemisahan dengan menggunakan fase diam polar seperti silica gel, polaritas fase gerak akan menentukan kecepatan migrasi solute yang berarti juga menentukan nilai Rf. Penambahan pelarut yang bersifat sedikit polar seperti dietil eter ke dalam pelarut non polar seperti metil benzene akan meningkatkan harga Rf secara signifikan
        4. Solut-solut ionik dan solute-solut polar lebih baik digunakan campuran pelarut sebagai fase geraknya, seperti campuran air dan methanol dengan perbandingan tertentu. Penambahan sedikit asam etanoat atau ammonia masing-masing akan meningkatkan solute-solut yang bersifat basa dan asam

 

BAB III

PROSEDUR KERJA

III.1. Alat

Alat yang digunakan yaitu Pipa kapiler, Chamber, Gelas ukur, Pipet volume dan lampu UV

III.2. Bahan

Bahan yang digunakan yaitu N-Heksan, etil asetat, lempeng KLT, Kertas saring dan alumunim foil.

III.3.
Cara Kerja

  1. Dibuat eluen N-Heksan Etil Asetat dengan perbandingan 1:9, 2:8, 3:7 dan 4:6.
  2. Dijenuhkan dengan kertas saring eluen diatas
  3. Disiapkan lempeng KLT dan ditotol dengan menggunakan pipa kapiler.
  4. Dimasukan dalam chamber, biarkan hingga eluennya naik.
  5. Diamati dibawah lampu UV 254 dan 366 nm.
  6.  

BAB IV

HASIL PRAKTIKUM

  • Tabel Pengamatan
  1. Eluen N-Heksan : Etil Asetat (1 : 9)

Fraksi

No.

Bercak

UV256

UV366

AlCl3

Rf

Warna

Rf

Warna

Rf

Warna

Air

1

0,98

Orange

2

0,18

Hijau

3

0,073

Hijau

N-Heksan

1

0,85

Hijau

0,85

Coklat

0,8

Kuning

2

0,6

Hijau

0,6

Coklat

0,18

Kuning

N-Butanol

1

1

Hijau

0,56

Coklat

0,81

Kuning

2

0,05

Hijau

0,21

Kuning

 

  1. Eluen N-Heksan : Etil Asetat (2 : 8)

Fraksi

No.

Bercak

UV256

UV366

Sitroborat

Rf

Warna

Rf

Warna

Rf

Warna

Air

1

0,09

Merah

N-Heksan

1

0,92

Hijau

0,92

Coklat

0,56

Kuning

2

1

Hijau

0,69

Coklat

3

0,05

Hijau

N-Butanol

1

0,96

Hijau

0,96

Coklat

0,64

Kuning

2

0,6

Hijau

0,6

Coklat

3

0,054

Hijau

 

  1. Eluen N-Heksan : Etil Asetat (3 : 7)

Fraksi

No.

Bercak

UV256

UV366

Vanilin

Rf

Warna

Rf

Warna

Rf

Warna

Air

1

0,96

Merah

N-Heksan

1

0,92

Coklat

0,92

Coklat

0,53

Kuning

2

0,61

Hijau

0,62

Coklat

0,45

Kuning

3

0,25

Kuning

N-Butanol

1

0,45

Kuning

 

 

  1. Eluen N-Heksan : Etil Asetat (4 : 6)

Fraksi

No.

Bercak

UV256

UV366

Dragendrof

Rf

Warna

Rf

Warna

Rf

Warna

Air

1

0,96

Coklat

N-Heksan

1

0,90

Coklat

N-Butanol

1

1

Hijau

1

Coklat

2

0,93

Hijau

0,93

Coklat

 

  1. Eluen N-Heksan : Etil Asetat (7 : 3)

Fraksi

No.

Bercak

UV256

UV366

Dragendrof

Rf

Warna

Rf

Warna

Rf

Warna

Air

1

0,91

Hijau

0,91

JIngga

0,91

Coklat

2

0,67

Hijau

0,62

Hijau

0,67

Hijau

3

0,55

Hijau

0,53

Coklat

0,55

Hijau

N-Heksan

1

N-Butanol

1

 

  1. Eluen N-Heksan : Etil Asetat (8 : 2)

Fraksi

No.

Bercak

UV256

UV366

Vanilin

Rf

Warna

Rf

Warna

Rf

Warna

Air

1

N-Heksan

1

0,89

Jingga

N-Butanol

1

0,91

Jingga

 

BAB V

PEMBAHASAN

Kromatografi lapis tipis (KLT) adalah salah satu metode pemisahan komponen menggunakan fasa diam berupa plat dengan lapisan bahan adsorben inert. KLT merupakan salah satu jenis kromatografi analitik. KLT sering digunakan untuk identifikasi awal, karena banyak keuntungan menggunakan KLT, di antaranya adalah sederhana dan murah. KLT termasuk dalam kategori kromatografi planar, selain kromatografi kertas.

KLT digunakan untuk pemisahan secara analitik dan preparatif. KLT analitik dipakai pada tahap permulaan pemisahan suatu cuplikan, sedangkan KLT preparatif hanya dilakukan jika diperlukan fraksi tertentu dari suatu campuran. Selain itu, KLT digunakan untuk mencari eluen terbaik pada tahap preparatif seperti fraksinasi dengan kromatografi kolom.

Penggunaan KLT memiliki beberapa keuntungan, yaitu pemisahan dapat dilakukan dengan cepat, zat-zat yang bersifat asam atau basa kuat dapat digunakan, analisis dapat dilakukan lebih sensitif dengan alat sederhana sehingga penggunaannya mudah. Selain itu, metode ini sederhana, cepat dalam pemisahan, sensitif, dan mudah untuk memperoleh kembali senyawa-senyawa yang terpisahkan.

Umumnya KLT melibatkan dua peubah, yaitu fase diam dan fase gerak. Fase diam yang umum digunakan adalah silika gel, alumina, kiselgur, dan selulosa. Fase gerak adalah suatu medium angkut yang terdiri dari satu atau beberapa macam pelarut. Fase gerak akan merayap sepanjang fase diam melalui gaya kapiler dan terbentuklah kromatogram. Kromatogram dinyatakan dengan nilai Rf, yaitu perbandingan jarak yang ditempuh senyawa dengan jarak yang ditempuh pelarut. Nilai Rf khas untuk suatu senyawa tertentu.

Pada percobaan ini dilakukan pengujian KLT dengan menggunakan Beberapa perpandinga Eluen N-Heksan : Etil Asetat dengan Perbandingan 1 : 9, 2 : 8, 3 : 7, 4 : 6, 7 : 3, dan 8 : 2 . Penjenuhan eluen dilakukan menggunakan kertas saring.

Percobaan ini menggunakan 3 fraksi yang diperoleh dari partisi untuk melihat pada fraksi mana noda yang terlihat bagus. Fraksi yang digunakan yaitu N-Heksan, N-Butanol , dan Air.

Pada praktikum ini digunakan perekasi Spesifik Vanilin, Sitroborat, Dragendrof, dan AlCl3 untuk mengidentifikasi noda. Vanilin dan Dragendrof digunakan utuk mengidentifikasi Alkaloid, Sitroborat digunakan untuk mengidentifikasi Flavanoid, AlCl3 digunakan untuk mengidentifikasi Flavanoid.

Dari praktikum yang dihasilkan pereaksi AlCl3
menghasilkan warna kuning pada noda dengan Eluen N-Heksan : Etil Asetat (1:9) yang menunjukan adanya Flavanoid. Dan pada fraksi air eluen N-Heksan : Etil Asetat (7:3) menghasilkan warna coklat menggunakan pereaksi Dragendrof menunjukan adanya alkaloid.

BAB VI

PENUTUP

  1. Kesimpulan

Dari praktikum yang dilakukan diperoleh hasil bahwa Fraksi Johar (Cassia siamea) mengandung Lakaloid dan Flavanoid

  1. Saran

Sebaiknya dalam praktikum semua anggota kelompok ikut bekerja, dan bagi yang tidur batalkan saja praktikumnya.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Amri Syaiful , 1995, Isolasi dan Penentuan Struktur Kandungan Kimia Ekstrak Etanol Kulit Batang Johar (Cassia Siamea Lamk.) ITB

 

Heyne, K., (1987), Tumbuhan Berguna Indonesia, Jilid 3, Departemen Kehutanan, Jakarta.

 

Gandjar Ibnu Gholib. Rohman Abdul. 2007. Kimia Farmasi Analisis. Pustaka Pelajar. Yogyakarta.

 

Roy J. Gritter, James M. Bobbit, Arthur E. S., 1991. Pengantar
Kromatografi. Penerbit ITB. Bandung

 

Steenis Van, C.G.G.J. 1978. Flora. P.T. Pradnya. Paramita Jakarta.