BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki luasan lautan terbesar di dunia. Indonesia memiliki jumlah pulau ±17.807 yang dimana memiliki panjang garis pantai mencapai ratusan kilometer. Hal ini yang menyebabkan Indonesia memiliki sumberdaya alam yang melimpah. Kekayaan laut yang sangat beragam pun dapat kita jumpai di Indonesia.

Eksplorasi merupakan kegiatan dalam mencari, mengelola dan memanfaatkan sumberdaya alam yang ada sehingga dapat memenuhi kebutuhan. Kita sering memanfaatkan sumberdaya yang ada untuk kita jadikan sebagai sumber kebutuhan sehari-hari. Akan tetapi, pemanfaatan sumberdaya tersebut masih belum dapat diseimbangkan dengan kondisi alam saat ini. Pemanfaatannya pun belum di optimalkan secara utuh. Selain itu sumberdaya yang ada hanya dimanfaatkan dan dikelola hanya untuk memenuhi kebutuhan dalam jangka pendek saja.

Untuk itu kami melakukan sebuah kegiatan praktikum untuk mengelola dan memanfaatkan sebuah sumberdaya alam yang ada sehingga dapat digunakan dalam waktu jangka panjang. Praktikum yang dilakukan ialah mengekstrak tanaman johar (Cassia siamea) dengan metode maserasi. Ekstrak yang dihasilkan akan dimanfaatkan untuk melihat ada tidaknya potensi untuk dijadikan sebuah obat.

 

  1. Rumusan Masalah

Bagaimana cara mengekstraksi tanaman daun johar (Cassia folium) yang berasal dari Desa belabori, Kecamatan Parangloe, Kabupaten Gowa.

  1. Maksud dan Tujuan
  2. Maksud

    Adapun maksud dari percobaan ini adalah untuk mengetahui dan memahami cara mengekstraksi komponen kimia ekstrak etanol 96% pada daun johar (Cassia folium) yang berasal dari Desa belabori, Kecamatan Parangloe, Kabupaten Gowa.

  3. Tujuan

    Tujuan dari praktikum kali ini adalah untuk memperoleh ekstrak etanol senyawa yang terkandung pada sampel daun kayu johar (Cassia folium) dengan menggunakan metode maserasi.

  4. Kerangka Pikir


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

  1. Uraian Tanaman
    1. Klasifikasi Tanaman (Heyne, 1987)

      Kingdom    : Plantae (Tumbuhan)

      Subkingdom     : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)

      Super Divisi     : Spermatophyta (Menghasilkan biji)

      Divisi        : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)

      Kelas        : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)

      Sub Kelas    : Rosidae

      Ordo        : Fabales

      Famili        : Fabaceae (suku polong-polongan)

      Genus        : Cassia

      Spesies    : Cassia siamea

    2. Nama Daerah

      Kayu Jawa (Gowa)

      Johar (flores)

    3. Morfologi

      Cassia siamea merupakan pohon berukuran sedang dengan cabang yang kuat dan halus. Daunnya terdiri dari 7-10 pasang anak daun, petiole (tangkai daun) mempunyai panjang 2-3 cm, dan tulang daunnya sepanjang 10-25 cm.Kelopaknya berwarna kuning dan panjangnya 1,5-2 cm . Buahnya seperti kacang polong sebanyak 20-30 buah dengan ukuran 1-1,5 cm. Bunga Johar memiliki panjang 15-60 cm dengan 10-60 kuntum bunga. Setiap bunga memiliki benang sari 10. Biji berwarna coklat terang mengkilap, bundar telur pipih dengan ukuran 6,5-8 mm x 6 mm. (Steenis, 1981)

    4. Ekologi

      Johar dapat tumbuh baik pada pelbagai kondisi tempat; akan tetapi paling cocok pada dataran rendah tropika dengan iklim muson, dengan curah hujan antara 500 – 2800 mm (optimum sekitar 1000 mm) pertahun, dan temperatur yang berkisar antara 20 – 31 °C. Johar menyukai tanah-tanah yang dalam, sarang, dan subur, dengan pH antara 5,5 – 7,5. Tanaman ini tidak tahan dingin dan pembekuan, tidak bagus tumbuhnya di atas elevasi 1300 m dpl. (Anonim, 1999)

    5. Kandungan Kimia

      Daun Johar menunjukkan adanya senyawa alkaloid, flavonoid, tanin, kuinon, dan steroid/triterpenoid. (Amri, 1995)

    6. Aktivitas Biologi / Khasiat

      Daun Johar (Cassia siamea) banyak digunakan dalam pengobatan tradisional antara lain sebagai obat malaria, gatal, kudis, kencing manis, demam, luka dan dimanfaatkan sebagai tonik karena memiliki kandungan flavonoid dan karotenoid yang cukup tinggi (Heyne 1987).

 

  1. Metode Ekstraksi
  2. Definisi

    Ekstrak adalah sediaan kental yang diperoleh dengan mengekstraksi senyawa aktif dari simplisia nabati atau simplisia hewani menggunakan pelarut yang sesuai, kemudian semua atau hampir semua pelarut diuapkan dan massa atau serbuk yang tersisa diperlakukan sedemikian sehingga memenuhi baku yang telah ditentukan. Sebagian besar ekstrak dibuat dengan mengekstraksi bahan baku obat secara perkolasi. Seluruh perkolat biasanya dipekatkan secara destilasi dengan menggunakan tekanan.(Ditjen POM, 1995)

    Ekstraksi adalah suatu proses penyarian senyawa kimia yang terdapat didalam bahan alam atau berasal dari dalam sel dengan menggunakan pelarut dan metode yang tepat. Sedangkan ekstrak adalah hasil dari proses ekstraksi, bahan yang diekstraksi merupakan bahan alam. (Ditjen POM, 1986)

  3. Proses Ekstrak bahan alam
    1. Pengeringan dan perajangan

      Pengeringan merupakan proses pengawetan simplisia sehingga simplisia tahan lama dalam penyimpanan. Selain itu pengeringan akan menghindari teruainya kandungan kimia karena pengaruh enzim. Pengeringan yang cukup akan mencegah pertumbuhan mikroorganisme dan kapang (jamur). Jamur Aspergilus flavus akan menghasilkan aflatoksin yang sangat beracun dan dapat menyebabkan kanker hati, senyawa ini sangat ditakuti oleh konsumen dari Barat. Menurut persyaratan obat tradisional tertera bahwa Angka khamir atau kapang tidak Iebih dari 104. Mikroba patogen harus negatif dan kandungan aflatoksin tidak lebih dari 30 bagian per juta (bpj). Tandanya simplisia sudah kering adalah mudah meremah bila diremas atau mudah patah. Menurut persyaratan obat tradisional pengeringan dilakukan sampai kadar air tidak lebih dari 10%. Cara penetapan kadar air dilakukan menurut yang tertera dalam Materia Medika Indonesia atau Farmakope Indonesia. Pengeringan sebaiknya jangan di bawah sinar matahari langsung, melainkan dengan almari pengering yang dilengkapi dengan kipas penyedot udara sehingga terjadi sirkulasi yang baik. Bila terpaksa dilakukan pengeringan di bawah sinar matahari maka perlu ditutup dengan kain hitam untuk menghindari terurainya kandungan kimia dan debu. Agar proses pengeringan berlangsung lebih singkat bahan harus dibuat rata dan tidak bertumpuk. Ditekankan di sini bahwa cara pengeringan diupayakan sedemikian rupa sehingga tidak merusak kandungan aktifnya. (Dijten POM, 1990)

      Banyak simplisia yang memerlukan perajangan agar proses pengeringan berlangsung lebih cepat. Perajangan dapat dilakukan “manual” atau dengan mesin perajang singkong dengan ketebalan yang sesuai. Apabila terlalu tebal maka proses pengeringan akan terlalu lama dan kemungkinan dapat membusuk atau berjamur. Perajangan yang terlalu tipis akan berakibat rusaknya kandungan kimia karena oksidasi atau reduksi. Alat perajang atau pisau yang digunakan sebaiknya bukan dan besi (misalnya “stainless steel” eteu baja nirkarat). (Ditjen POM, 1990)

    2. Pemilihan pelarut

      Dalam memilih pelarut yang akan dipakai harus diperhatikan sifat kandungan kimia (metabolit sekunder) yang akan diekstraksi. Sifat yang penting adalah sifat kepolaran, dapat dilihat dari gugus polar senyawa tersebut yaitu gugus OH, COOH. Senyawa polar lebih mudah larut dalam pelarut polar, dan senyawa non polar akan lebih mudah larut dalam pelarut non polar. Derajat kepolaran tergantung kepada ketetapan dielektrik, makin besar tetapan dielektrik makin polar pelarut tersebut. (Ditjen POM, 1992)

    Syarat-syarat pelarut adalah sebagai berikut (Ditjen POM, 1992):

    1. Kapasitas besar
    2. Selektif
    3. Volabilitas cukup rendah (kemudahan menguap/titik didihnya cukup rendah) Cara memperoleh penguapannya adalah dengan cara penguapan diatas penangas air dengan wadah lebar pada temperature 60oC, destilasi, dan penyulingan vakum.
    4. Harus dapat diregenerasi
    5. Relative tidak mahal
    6. Non toksik, non korosif, tidak memberikan kontaminasi serius dalam keadaan uap
    7. Viskositas cukup rendah
    1. Pemilihan metode ekstraksi

      Pemilihan metode ekstraksi tergantung bahan yang digunakan, bahan yang mengandung mucilago dan bersifat mengembang kuat hanya boleh dengancara maserasi. sedangkan kulit dan akar sebaiknya di perkolasi. untuk bahan yang tahan panas sebaiknya diekstrasi dengan cara refluks sedangkan simplisia yang mudah rusak karna pemanasan dapat diekstrasi dengan metode soxhlet. (Agoes, 2007)

      Hal-hal yang dipertimbangkan dalam pemilihan metode ekstraksi (Agoes, 2007):

  • bentuk/tekstur bahan yang digunakan
  • kandungan air dari bahan yang diekstrasi
  • jenis senyawa yang akan diekstraksi
  • sifat senyawa yang akan diekstraksi
  1. Pembagian Jenis Ekstraksi
    1. Ekstraksi Secara Dingin

      Proses ektraksi secara dingin pada prinsipnya tidak memerlukan pemanasan. Hal ini diperuntukkan untuk bahan alam yang mengandung komponen kimia yang tidak tahan pemanasan dan bahan alam yang mempunyai tekstur yang lunak. Yang termasuk ekstraksi secara dingin adalah (Ditjen POM, 1986) :

  • Metode Maserasi

    Metode maserasi merupakan cara penyarian yang sederhana yang dilakukan dengan cara merendam serbuk simplisia dalam cairan penyari selama beberapa hari pada temperatur kamar dan terlindung dari cahaya (Ditjen POM : 1986).

    Metode ini digunakan untuk menyari simplisia yang mengandung komponen kimia yang mudah larut dalam cairan penyari, tidak mengandung zat yang mudah mengembang seperti benzoin, stiraks dan lilin. Penggunaan metode ini misalnya pada sampel yang berupa daun, contohnya pada penggunaan pelarut eter atau aseton untuk melarutkan lemak/lipid (Ditjen POM, 1986).

    Maserasi umumnya dilakukan dengan cara: memasukkan simplisia yang sudah diserbukkan dengan derajat halus tertentu sebanyak 10 bagian dalam bejana maserasi yang dilengkapi pengaduk mekanik, kemudian ditambahkan 75 bagian cairan penyari ditutup dan dibiarkan selama 5 hari pada temperatur kamar dan terlindung dari cahaya sambil berulang-ulang diaduk. Setelah 5 hari, cairan penyari disaring ke dalam wadah penampung, kemudian ampasnya diperas dan ditambah cairan penyari lagi secukupnya dan diaduk kemudian disaring lagi sehingga diperoleh sari 100 bagian. Sari yang diperoleh ditutup dan disimpan pada tempat yang terlindung dari cahaya selama 2 hari, endapan yang terbentuk dipisahkan dan filtratnya dipekatkan (Ditjen POM, 1986).

    Keuntungan cara penyarian dengan maserasi adalah cara pengerjaan dan peralatan yang digunakan sederhana dan mudah diusahakan. Selain itu, kerusakan pada komponen kimia sangat minimal. Adapun kerugian cara maserasi ini adalah pengerjaannya lama dan penyariannya kurang sempurna (Ditjen POM : 1986).

  • Metode Soxhletasi

    Soxhletasi merupakan penyarian simplisia secara berkesinambungan, cairan penyari dipanaskan sehingga menguap, uap cairan penyari terkondensasi menjadi molekul-molekul air oleh pendingin balik dan turun menyari simplisia dalam klongsong dan selanjutnya masuk kembali ke dalam labu alas bulat setelah melewati pipa sifon. Proses ini berlangsung hingga penyarian zat aktif sempurna yang ditandai dengan beningnya cairan penyari yang melalui pipa sifon atau jika diidentifikasi dengan kromatografi lapis tipis tidak memberikan noda lagi. (Ditjen POM, 1986).

    Metode soxhletasi bila dilihat secara keseluruhan termasuk cara panas, karena pelarut atau cairan penyarinya dipanaskan agar dapat menguap melalui pipa samping dan masuk ke dalam kondensor, walaupun pemanasan yang dilakukan tidak langsung tapi hanya menggunakan suatu alat yang bersifat konduktor sebagai penghantar panas. Namun, proses ekstraksinya secara dingin karena pelarut yang masuk ke dalam kondensor didinginkan terlebih dahulu sebelum turun ke dalam tabung yang berisi simplisia yang akan dibasahi atau di sari. Hal tersebutlah yang mendasari sehingga metode soxhlet digolongkan dalam cara dingin. Pendinginan pelarut atau cairan penyari sebelum turun ke dalam tabung yang berisi simplisia dilakukan karena simplisia yang disari tidak tahan terhadap pemanasan. (Ditjen POM, 1986).

    Sampel atau bahan yang akan diekstraksi terlebih dahulu diserbukkan dan ditimbang kemudian dimasukkan ke dalam klongsong yang telah dilapisi dengan kertas saring sedemikian rupa (tinggi sampel dalam klongsong tidak boleh melebihi pipa sifon), karena dapat mempengaruhi kesetimbangan pergerakan eluen yang telah terelusi keluar dari pipa sifon, dimana jika tinggi sampel melebihi kertas saring (pipa sifon), maka eluen hasil elusi akan keluar melalui pipa aliran uap yang berada diatas sampel, bukan keluar melalui pipa sifon . Selanjutnya labu alas bulat diisi dengan cairan penyari yang sesuai kemudian ditempatkan di atas waterbath atau heating mantel dan diklem dengan kuat kemudian klongsong yang telah diisi sampel dipasang pada labu alas bulat yang dikuatkan dengan klem dan cairan penyari ditambahkan untuk membasahkan sampel yang ada dalam klongsong. Setelah itu kondensor dipasang tegak lurus dan diklem pada statif dengan kuat. Aliran air dan pemanas dijalankan hingga terjadi proses ekstraksi dimana pada saat pelarut telah mendidih, maka uapnya akan melalui pipa samping lalu naik ke kondensor. Di sini uap akan didinginkan sehingga uap mengembun dan menjadi tetesan – tetesan cairan yang akan menetes turun ke klongsong dan membasahi simplisia. Tetesan – tetesan uap air cairan penyari ini akan ditampung di dalam klongsong hingga suatu ketika ekstrak mencapai ketinggian ujung sifon sehingga pelarut ini akan turun kembali ke dalam wadah pelarut secara cepat. Proses ini berulang hingga penyarian yang dilakukan sempurna dalam hal ini, cairan penyari yang pada awalnya berwarna, di dalam pipa sifon sudah tidak berwarna lagi atau jika cairan penyari pada awalnya memang tidak berwarna maka biasanya dilakukan 20-25 kali sirkulasi. Ekstrak yang diperoleh dikumpulkan dan dipekatkan dengan rotavapor (Ditjen POM : 1986).

    Adapun keuntungan dari proses soxhletasi ini adalah cara ini lebih menguntungkan karena uap panas tidak melalui serbuk simplisia, tetapi melalui pipa samping. Kerugiannya adalah jumlah ekstrak yang diperoleh lebih sedikit dibandingkan dengan metode maserasi (Ditjen POM : 1986).

  • Metode Perkolasi

    Perkolasi adalah cara penyarian dengan mengalirkanpenyari melalui serbuk simplisia yang telah dibasahi. Prinsip ekstraksi dengan perkolasi adalah serbuk simplisia ditempatkan dalam suatu bejana silinder, yang bagian bawahnya diberi sekat berpori, cairan penyari dialirkan dari atas ke bawah melalui serbuk tersebut, cairan penyari akan melarutkan zat aktif dalam sel-sel simplisia yang dilalui sampel dalam keadaan jenuh. Gerakan ke bawah disebabkan oleh kekuatan gaya beratnya sendiri dan tekanan penyari dari cairan di atasnya, dikurangi dengan daya kapiler yang cenderung untuk menahan gerakan ke bawah (Ditjen POM : 1986).

    Cara perkolasi lebih baik dibandingkan dengan cara maserasi karena (Ditjen POM : 1986):

  1. Aliran cairan penyari menyebabkan adanya pergantian larutan yang terjadi dengan larutan yang konsentrasinya lebih rendah sehingga meningkatkan derajat perbedaan konsentrasi.
  2. Ruangan diantara butir – butir serbuk simplisia membentuk saluran tempat mengalir cairan penyari. Karena kecilnya saluran kapiler tersebut, maka kecepatan pelarut cukup untuk mengurangi lapisan batas, sehingga dapat meningkatkan perbedaan konsentrasi.

Adapun kerugian dari cara perkolasi ini adalah serbuk kina yang mengadung sejumlah besar zat aktif yang larut, tidak baik bila diperkolasi dengan alat perkolasi yang sempit, sebab perkolat akan segera menjadi pekat dan berhenti mengalir (Ditjen POM, 1986).

Kekuatan yang berperan pada perkolasi antara lain: gaya berat, kekentalan, daya larut, tegangan permukaan, difusi, osmosa, adesi, daya kapiler dan daya geseran (friksi) (Ditjen POM : 1986).

Alat yang digunakan untuk perkolasi disebut perkolator, cairan yang digunakan untuk menyari disebut  cairan penyari atau menstrum, larutan zat aktif yang keluar dari perkolator disebut sari atau perkolat, sedangkan sisa setelah dilakukannya penyarian disebut ampas atau sisa perkolasi (Ditjen POM : 1986).

  1. Ekstraksi Secara Panas

    Ekstraksi secara panas dilakukan untuk mengekstraksi  komponen kimia yang tahan terhadap pemanasan seperti glikosida, saponin dan minyak-minyak menguap yang mempunyai titik didih yang tinggi, selain itu pemanasan juga diperuntukkan untuk membuka pori-pori sel simplisia sehingga pelarut organik mudah masuk ke dalam sel untuk melarutkan komponen kimia. Metode ekstraksi yang termasuk cara panas yaitu (Tobo :2001)

  • Metode Refluks

    Metode refluks adalah termasuk metode berkesinambungan dimana cairan penyari secara kontinyu menyari komponen kimia dalam simplisia cairan penyari dipanaskan sehingga menguap dan uap tersebut dikondensasikan oleh pendingin balik, sehingga mengalami kondensasi menjadi molekul-molekul cairan dan jatuh kembali ke labu alas bulat sambil menyari simplisia. Proses ini berlangsung secara berkesinambungan dan biasanya dilakukan 3 kali dalam waktu 4 jam. (Ditjen POM : 1986)

    Simplisia yang biasa diekstraksi adalah simplisia yang mempunyai komponen kimia yang tahan terhadap pemanasan dan mempunyai tekstur yang keras seperti akar, batang, buah, biji dan herba (Ditjen POM : 1986).

    Serbuk simplisia atau bahan yang akan diekstraksi secara refluks ditimbang kemudian dimasukkan ke dalam labu alas bulat dan ditambahkan pelarut organik misalnya methanol sampai serbuk simplisia terendam kurang lebih 2 cm di atas permukaaan simplisia atau 2/3 dari volume labu, kemudian labu alas bulat dipasang kuat pada statif pada waterbath atau heating mantel, lalu kondendor dipasang pada labu alas bulat yang dikuatkan dengan klem dan statif. Aliran air dan pemanas (water bath) dijalankan sesuai dengan suhu pelarut yang digunakan. Setelah 4 jam dilakukan penyarian. Filtratnya ditampung pada wadah penampung dan ampasnya ditambah lagi pelarut dan dikerjakan seperti semula, ekstraksi dilakukan selama 3-4 jam. Filtrat yang diperoleh dikumpulkan dan dipekatkan dengan rotavapor, kemudian dilakukan pengujian selanjutnya (Ditjen POM : 1986).

    Keuntungan dari metode ini adalah (Ditjen POM : 1986):

  1. Dapat mencegah kehilangan pelarut oleh penguapan selama proses pemanasan jika digunakan pelarut yang mudah menguap atau dilakukan ekstraksi jangka panjang.
  2. Dapat digunakan untuk ekstraksi sampel yang tidak mudah rusak dengan adanya pemanasan.

Adapun kerugian dari metode ini adalah prosesnya sangat lama dan diperlukan alat – alat yang tahan terhadap pemanasan (Ditjen POM : 1986).

  • Metode Destilasi Uap Air

    Metode destilasi uap air diperuntukkan untuk menyari simplisia yang mengandung minyak menguap atau mengandung komponen kimia yang mempunyai titik didih tinggi pada tekanan udara normal, misalnya pada penyarian minyak atsiri yang terkandung dalam tanaman Sereh (Cymbopogon nardus). Pada metode ini uap air digunakan untuk menyari simplisia dengan adanya pemanasan kecil uap air tersebut menguap kembali bersama minyak menguap dan dikondensasikan oleh kondensor sehingga terbentuk molekul-molekul air yang menetes ke dalam corong pisah penampung yang telah diisi air. Penyulingan dilakukan hingga sempurna (Ditjen POM : 1986).

    Sampel yang akan diekstraksi direndam dalam gelas kimia selama 2 jam setelah itu dimasukkan ke dalam bejana B, bejana A diisi air dan pipa-pipa penyambung serta kondensor dan penampung corong pisah dipasang dengan kuat. Api Bunsen bejana A dinyalakan sehingga airnya mendidih dan diperoleh uap air yang selanjutnya masuk ke dalam bejana B melalui pipa penghubung untuk menyari sampel dengan adanya bantuan api kecil pada bejana B, minyak menguap yang telah tersari selanjutnya menguap menuju kondensor, karena adanya pendinginan balik uap dari minyak menguap ini, maka uap air yang terbentuk menetes ke dalam corong pisah penampung yang telah berisi air (Ditjen POM : 1986).

    Prinsip fisik destilasi uap yaitu jika dua cairan tidak bercampur digabungkan, tiap cairan bertindak seolah – olah pelarut itu hanya sendiri, dan menggunakan tekanan uap. Tekanan uap total dari campuran yang mendidih sama dengan jumlah tekanan uap parsial, yaitu tekanan yang digunakan oleh komponen tunggal, karena pendidihan yang dimaksud yaitu tekanan uap total sama dengan tekanan atmosfer, titik didih dicapai pada temperatur yang lebih rendah daripada jika tiap – tiap cairan berada dalam keadaan murni (Ditjen POM : 1986).

    Keuntungan dari destilasi uap ini adalah  titik didih dicapai pada temperatur yang lebih rendah daripada jika tiap– tiap cairan berada dalam keadaan murni. Selain itu, kerusakan zat aktif pada destilasi langsung dapat diatasi pada destilasi uap ini. Kerugiannya adalah diperlukannya alat yang lebih kompleks dan pengetahuan yang lebih banyak sebelum melakukan destilasi uap ini (Ditjen POM : 1986).

  1. Cara kerja praktikum (Anonim, 2013)

    Maserasi dilakukan dengan cara memasukkan simplisia dengan derajat halus tertentu sebanyak 10 bagian dalam bejana maserasi (Toples), kemudian ditambah 75 bagian cairan penyari, ditutup dan dibiarkan selama 3 hari pada temperatur kamar terlindung dari cahaya, sambil berulang-ulang diaduk. Setelah 3 hari, disaring dalam bejana penampung, kemudian ampas diperas dan ditambah cairan penyari lagi secukupnya dan diaduk kemudian disaring lagi sehingga diperoleh sari yang diperoleh dipekatkan dengan rotavavor.

BAB III

PROSEDUR KERJA

III.1. Alat

Alat yang digunakan yaitu Toples Timbangan, Batang pengaduk, Mangkok Corong,dan cawan porselin

III.2. Bahan

Bahan yang digunakan yaitu Etanol 96%, Kertas saring, dan alumunim foil.

III.3.
Cara Kerja

  1. Ditimbang Serbuk Cassia Folium 350 gram.
  2. Dimasukkan dalam toples
  3. Dimasukkan etanol 96% hingga tinggi cairannya 1,5 kali tinggi serbuk dalam toples.
  4. Dibiarkan selama beberapa hari
  5. Disaring dan diuapkan

 

BAB IV

HASIL PRAKTIKUM

  • Tabel Pengamatan

No.

Pengamatan

Sampel

1

Metode Ekstraksi

Maserasi

2

Bobot Sebelum diekstraksi (g)

350 Gram

3

Bobot Ekstrak Kering (g)

23,5954 gram

4

Pesentase Ekstrak (%) / Rendamen

6,7415 %

5

Jumlah Cairan Penyari

2250 ml

6

Jumlah Ekstrak Cair

2050 ml

 

  • Perhitungan

% Rendamen Ekstrak    =

                =

                = 6,7415%

BAB V

PEMBAHASAN

Tujuan Dilakukan percobaan ekstraksi adalah untuk memperoleh ekstrak etanol dari daun tanaman Johar (Cassia Folium) yang selanjutnya akan digunakan dalam praktikum berikutnya.

Ekstraksi adalah proses penarikan senyawa aktif dari suatu simplisia menggunakan pelarut tertentu, dimana ektraksi memiliki prinsip umum yaitu difusi dan osmosis

Pada praktikum ini digunakan metode maserasi karena tekstur sampel yang kami miliki bertektur lunak, dan hasil ekstrak yang diperoleh dari maserasi lebih banyak dari metode lainnya,

Praktikum ini dilakukan dengan cara menimbang serbuk halus sebanyak 350 gram kemudian dimasukan kedalam toples, lalu ditambakan 750 ml etanol lalu didiamkan beberapa hari sambil diaduk-aduk sesekali, setelah itu disaring kemudian diuapkan, setelah itu ampasnya ditambahkan lagi pelarut hingga 2 kali remaserasi.

Etanol digunakan sebagai pelarut karena etanol termasuk ke dalam pelarut polar, sehingga sebagai pelarut diharapkan dapat menarik zat-zat aktif yang juga bersifat polar. Etanol digunakan sebagai cairan penyari karena lebih selektif, kapang dan khamir sulit tumbuh dalam etanol 20% ke atas, tidak beracun, netral, dan etanol dapat bercampur dengan air pada segala perbandingan, serta panas yang diperlukan untuk pemekatan lebih rendah. Etanol dapat memperbaiki stabilitas bahan obat terlarut dan tidak mengakibatkan pembengkakan membran sel. Keuntungan lainnya adalah

sifatnya yang mampu mengendapkan albumin dan menghambat kerja enzim. Umumnya yang digunakan sebagai cairan pengekstraksi adalah campuran

Keuntungan dari maserasi yaitu mudah dan sederhana, selain itu hasil yang diperoleh juga banyak, sedangkan kerugiannya yaitu membutuhkan banyak pelarut, membutuhkan waktu yang lama dan penyariannya kurang sempurna.

Dari Praktikum yang dilakukan diperoleh Bobot ekstrak kering 32,5954 gram, dan setelah dihitung rendamennya diperoleh 6,7415%.

BAB VI

PENUTUP

  1. Kesimpulan

Dari Praktikum yang dilakukan diperoleh Bobot ekstrak kering 32,5954 gram, dan % Rendamen 6,7415%.

 

  1. Saran

Sebaiknya dalam praktikum semua anggota kelompok ikut bekerja

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Agoes. Goeswin, 2007, Teknologi Bahan Alam. Penerbit ITB: Bandung.

 

Amri Syaiful , 1995, Isolasi dan Penentuan Struktur Kandungan Kimia Ekstrak Etanol Kulit Batang Johar (Cassia Siamea Lamk.) ITB

 

Anonim 1999: Senna siamea – a widely used legume tree. Fact Sheet

 

Ditjen POM, (1986), Sediaan Galenik, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.

 

Dijten POM, 1990, Cara Pembuatan Simplisia. Departemen Kesehatan Republik Indonesia: Jakarta.

 

Ditjen POM, 1992, Cara Pembuatan Obat Tradisional Yang Baik. Departemen Kesehatan Republik Indonesia: Jakarta.

 

Heyne, K., (1987), Tumbuhan Berguna Indonesia, Jilid 3, Departemen Kehutanan, Jakarta.

 

Kardono, L.B.S., Angehofer C.K., Tsauri S., Padmawinata K., Pezzuto J.M. & Kinghorn D.
1991. Cytotoxic and antimalarial constituents of the roots of Eurycoma longifolia
. Journ. Nat. Prod.

 

Tobo, Fachruddin, (2001), Buku Pegangan Laboratorium Fitokimia, Laboratorium  Fitokimia Jurusan Farmasi Unhas, Makassar.

 

Steenis Van, C.G.G.J. 1978. Flora. P.T. Pradnya. Paramita Jakarta.