BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki luasan lautan terbesar di dunia. Indonesia memiliki jumlah pulau ±17.807 yang dimana memiliki panjang garis pantai mencapai ratusan kilometer. Hal ini yang menyebabkan Indonesia memiliki sumberdaya alam yang melimpah. Kekayaan laut yang sangat beragam pun dapat kita jumpai di Indonesia.

Eksplorasi merupakan kegiatan dalam mencari, mengelola dan memanfaatkan sumberdaya alam yang ada sehingga dapat memenuhi kebutuhan. Kita sering memanfaatkan sumberdaya yang ada untuk kita jadikan sebagai sumber kebutuhan sehari-hari. Akan tetapi, pemanfaatan sumberdaya tersebut masih belum dapat diseimbangkan dengan kondisi alam saat ini. Pemanfaatannya pun belum di optimalkan secara utuh. Selain itu sumberdaya yang ada hanya dimanfaatkan dan dikelola hanya untuk memenuhi kebutuhan dalam jangka pendek saja.

Untuk itu kami melakukan sebuah kegiatan praktikum untuk mengelola dan memanfaatkan sebuah sumberdaya alam yang ada sehingga dapat digunakan dalam waktu jangka panjang. Praktikum yang dilakukan ialah mengekstrak tanaman johar (Cassia siamea) dengan metode maserasi. Ekstrak yang dihasilkan akan dimanfaatkan untuk melihat ada tidaknya potensi untuk dijadikan sebuah obat.

 

  1. Rumusan Masalah

Bagaimana cara menguapkan ekstrak tanaman daun johar (Cassia folium) yang berasal dari Desa belabori, Kecamatan Parangloe, Kabupaten Gowa.

  1. Maksud dan Tujuan
  2. Maksud

    Adapun maksud dari percobaan ini adalah untuk mengetahui dan memahami cara menguapkan ekstrak etanol 96% daun johar (Cassia folium) yang berasal dari Desa belabori, Kecamatan Parangloe, Kabupaten Gowa.

  3. Tujuan

    Tujuan dari praktikum kali ini adalah untuk memperoleh ekstrak kental daun kayu johar (Cassia folium).

  4. Kerangka Pikir


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

  1. Uraian Tanaman
    1. Klasifikasi Tanaman (Heyne, 1987)

      Kingdom    : Plantae (Tumbuhan)

      Subkingdom     : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)

      Super Divisi     : Spermatophyta (Menghasilkan biji)

      Divisi        : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)

      Kelas        : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)

      Sub Kelas    : Rosidae

      Ordo        : Fabales

      Famili        : Fabaceae (suku polong-polongan)

      Genus        : Cassia

      Spesies    : Cassia siamea

    2. Nama Daerah

      Kayu Jawa (Gowa)

      Johar (flores)

    3. Morfologi

      Cassia siamea merupakan pohon berukuran sedang dengan cabang yang kuat dan halus. Daunnya terdiri dari 7-10 pasang anak daun, petiole (tangkai daun) mempunyai panjang 2-3 cm, dan tulang daunnya sepanjang 10-25 cm.Kelopaknya berwarna kuning dan panjangnya 1,5-2 cm . Buahnya seperti kacang polong sebanyak 20-30 buah dengan ukuran 1-1,5 cm. Bunga Johar memiliki panjang 15-60 cm dengan 10-60 kuntum bunga. Setiap bunga memiliki benang sari 10. Biji berwarna coklat terang mengkilap, bundar telur pipih dengan ukuran 6,5-8 mm x 6 mm. (Steenis, 1981)

    4. Ekologi

      Johar dapat tumbuh baik pada pelbagai kondisi tempat; akan tetapi paling cocok pada dataran rendah tropika dengan iklim muson, dengan curah hujan antara 500 – 2800 mm (optimum sekitar 1000 mm) pertahun, dan temperatur yang berkisar antara 20 – 31 °C. Johar menyukai tanah-tanah yang dalam, sarang, dan subur, dengan pH antara 5,5 – 7,5. Tanaman ini tidak tahan dingin dan pembekuan, tidak bagus tumbuhnya di atas elevasi 1300 m dpl. (Anonim, 1999)

    5. Kandungan Kimia

      Daun Johar menunjukkan adanya senyawa alkaloid, flavonoid, tanin, kuinon, dan steroid/triterpenoid. (Amri, 1995)

    6. Aktivitas Biologi / Khasiat

      Daun Johar (Cassia siamea) banyak digunakan dalam pengobatan tradisional antara lain sebagai obat malaria, gatal, kudis, kencing manis, demam, luka dan dimanfaatkan sebagai tonik karena memiliki kandungan flavonoid dan karotenoid yang cukup tinggi (Heyne 1987).

 

  1. Penguapan
  2. Definisi (Sudjadi, 1986)

    Penguapan dimaksudkan untuk mendapatkan kosistensi ekstrak yang lebih pekat. Dan tujuan dilakukan penguapan adalah untuk menghilangkan cairan penyari yang digunakan, agar tidak mengganggu pada proses partisi.

  3. Metode Penguapan (Sudjadi, 1986)
    1. Penguapan sederhana dimana menggunakan pemanasan.
    2. Penguapan pada tekanan yang diturunkan.
    3. Penguapan dengan aliran gas
    4. Penguapan beku kering
    5. Penguapan dengan vakum desikator
    6. Penguapan dengan oven.
  4. Faktor-faktor yang mempengaruhi penguapan (Sudjadi, 1986)
    1. Suhu
    2. Tekanan
    3. Bahan atau sampel
    4. Larutan penyari.
  5. Pembagian Ekstrak (Ditjen POM, 1979)
    1. Ekstrak cair : adalah ekstrak yang diperoleh dari hasil penyarian bahan alam masih mengandung larutan penyari.
    2. Ekstrak kental : adalah ekstrak yang telah mengalami proses penguapan, dan tidak mengandung cairan penyari lagi, tetapi konsistensinya tetap cair pada suhu kamar.
    3. Ekstrak kering : adalah ekstrak yang telah mengalami proses penguapan dam tidak mengandung pelarut lagi dan mempunyai konsistensi padat (berwujud kering)

BAB III

PROSEDUR KERJA

III.1. Alat

Alat yang digunakan yaitu Sendok Tanduk, Mangkok Corong, dan cawan porselin Rice cooker.

III.2. Bahan

Bahan yang digunakan yaitu Air, dan alumunim foil.

III.3.
Cara Kerja

  1. Dipanaskan air menggunakan ricecooker.
  2. Dimasukkan ekstrak cair kedalam mangkok kaca.
  3. Dipanaskan di ricecooker.
  4. Setelah ekstrak mengental, ekstrak dipindahkan kedalam cawan porselein

 

BAB IV

HASIL PRAKTIKUM

  • Tabel Pengamatan

No.

Pengamatan

Sampel

1

Metode Penguapan

Menggunakan Ricecooker

2

Konsistensi

Kental

3

Bobot Ekstrak (g)

23,5954 gram

 

BAB V

PEMBAHASAN

Penguapan adalah proses terbentuknya uap dari permukaan cairan. Kecepatan terbentuknya uap tergantung atas terjadinya difusi uap melalui lapisan batas diatas cairan yang bersangkutan. Disini berlaku prinsip pemindahan massa dan tekanan parsiel merupakan tenaga dorongnya.

Pada penguapan, terbentuknya uap berjalan sangat lambat, sehingga cairan tersebut terlepas melalui gelembung-gelembung udara yang terlepas dari cairan. Kecepatan penguapan tergantung pada kecepatan pemindahan panas. Oleh karena itu, alat penguapan dirancang agar dapat memberikan pemindahan panas yang maksimal kepada cairan. Untuk itu, permukaan harus seluas mungkin dan lapisan batas dikurangi. Untuk memilih alat yang tepat harus diperhatikan sifat bahan yang akan diuapkan.

Faktor-faktor yang mempengaruhi penguapan, yaitu :

  1. Suhu

    Makin tinggi suhu makin capat penguapan.

  2. Waktu    

    Waktu yang singkat kurang menimbulkan kerusakan dibandingkan dengan bila dilakukan pada suhu rendah tetapi memerlukan waktu yang lama.

     

  3. Kelembaban

    Bila kelembaban makin tinggi terutama paa kenaikan suhu, maka beberapa dari senyawa kimia mudah untuk terurai.

  4. Cara Penguapan

    Bentuk hasil akhir seringkali menentukan cara penguapan yang tepat.

  5. Konsentrasi

    Dengan kenaikan suhu dan kadar zat padat akan memperbesar resiko kerusakan zat yang tidak tahan pemanasan dan mengurangi perbedaan suhu yang merupakan daya dorong untuk pemindahan panas.

Alat penguapan dapat digolongkan berdasarkan bentuk gerakan. Gerakan dapat mempengaruhi pemindahan panas yang diperlukan untuk penguapan. Atas dasar bentuk gerakan, alat penguap dapat digolongkan menjadi 3, yaitu:

  1. Alat penguap dengan sirkulasi alamiah Adalah alat yang aliran cairan di dalamnya terjadi karena adanya proses pemanasan dan karena adanya aliran ini terjadi penghantaran panas.
  2. Alat penguap dengan sirkulasi paksa merupakan alat penguap sirkulasi alamiah dengan diberi tambahan alat pengaduk. Alat penguap tersebut dapat juga berupa lat penyuling atau alat penguap pipa pendek yang isinya mengalami pengadukan.
  3. Alat penguap lapis tipis alat ini dapat dilaksanakan dengan cara mendidihkan cairan dalam suatu bejana, uap terlepas melaui gelembung-gelembung dari dalam cairannya.

Tujuan Dilakukan percobaan penguapan adalah untuk memperoleh ekstrak kental dari daun Johar (Cassia Folium) yang selanjutnya akan digunakan dalam praktikum berikutnya.

Penguapan adalah proses menghilangkan pelarut pada ekstrak dengan bantuan panas, perbedaan tekanan dan pendinginan.

Praktikum ini dilakukan dengan cara menyimpan ekstrak pada mangkok kaca kemudian dpanaskan diatas ricecooker

Dari penguapan ekstrak yang dilakukan diperoleh ekstrak kental dengan berat 23,5954 gram

BAB VI

PENUTUP

  1. Kesimpulan

Dari Praktikum yang dilakukan diperoleh ekstrak kental dengan berat 23,5954 gram

  1. Saran

Sebaiknya dalam praktikum semua anggota kelompok ikut bekerja

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Amri Syaiful , 1995, Isolasi dan Penentuan Struktur Kandungan Kimia Ekstrak Etanol Kulit Batang Johar (Cassia Siamea Lamk.) ITB

 

Anonim 1999: Senna siamea – a widely used legume tree. Fact Sheet

 

Ditjen POM, 1979, Farmakope Indonesia Edisi III, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.

 

Heyne, K., (1987), Tumbuhan Berguna Indonesia, Jilid 3, Departemen Kehutanan, Jakarta.

 

Steenis Van, C.G.G.J. 1978. Flora. P.T. Pradnya. Paramita Jakarta. 

 

Sudjadi, Drs. 1986. Metode Pemisahan. UGM Press : Yogyakarta.